Balikpapan — PKBM Rumah Cahaya Rutan Kelas II A Balikpapan menggelar Pembinaan Tutor Pendidikan Kesetaraan pada Kamis, 8 Januari 2026, di Ruang Kelas PKBM Rumah Cahaya Rutan Kelas II A Balikpapan. Kegiatan yang diikuti sekitar 20 tutor ini bertujuan memperkuat pemahaman pendidikan nonformal dan mendorong pembelajaran yang humanis bagi warga binaan.
Pembinaan dikemas dalam bentuk Workshop/In House Training (IHT) dengan menghadirkan Pandu Dharma Wicaksono sebagai pemateri utama. Pandu dikenal sebagai penggerak pendidikan nonformal yang berhasil mengembangkan PKBM Pengayoman di Lapas Balikpapan, dan kini mendampingi pengembangan PKBM Rumah Cahaya di Rutan Balikpapan.
Dalam pemaparannya, Pandu menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan di rutan harus melampaui sekadar pemenuhan administrasi belajar, melainkan menjadi ruang pemulihan dan penguatan martabat manusia.
“Rutan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran. Pendidikan kesetaraan harus memanusiakan, membangun harapan, dan memberi bekal nyata bagi warga binaan untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Pandu.
Kegiatan ini turut dihadiri dan dibuka oleh Kepala Sub Seksi Pelayanan Rutan Kelas II A Balikpapan yang juga Kepala Sekolah PKBM Rumah Cahaya, Adi Nugroho, serta Penggerak sekaligus Founder PKBM Rumah Cahaya, Tegar Aria Taba. Dalam sambutannya, Adi Nugroho menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pembinaan tersebut.
“Kami sangat senang dan bahagia. Kegiatan ini positif dan bermanfaat, baik bagi tutor maupun bagi warga binaan yang akan mengikuti pembelajaran di PKBM Rumah Cahaya,” katanya.
Para peserta pembinaan merupakan tutor pendidikan kesetaraan yang berasal dari petugas pemasyarakatan Rutan Balikpapan. Melalui IHT ini, tutor dibekali pemahaman dasar tentang penyelenggaraan pendidikan nonformal di PKBM serta strategi pembelajaran yang efektif dan kontekstual di lingkungan pemasyarakatan.
Melalui pembinaan ini, PKBM Rumah Cahaya Rutan Kelas II A Balikpapan berharap proses pembelajaran pendidikan kesetaraan dapat segera berjalan secara optimal, memberi manfaat nyata bagi warga binaan, sekaligus mengubah pandangan masyarakat bahwa rutan tidak semata tempat penghukuman, tetapi juga ruang pendidikan dan pembinaan manusia.