Skill yang Kamu Anggap Iseng Hari Ini Bisa Jadi Peluang Besarmu Besok: Pelajaran dari Fiki Naki
Kadang kita menganggap sebuah skill hanya sebagai hobi.
Belajar bahasa karena penasaran.
Belajar desain karena suka.
Mencoba editing karena iseng.
Atau mempelajari sesuatu hanya karena terasa menyenangkan.
Kita belum tahu skill itu akan dibawa ke mana.
Perjalanan Fiki Naki menunjukkan sesuatu yang menarik: kemampuan yang awalnya dipelajari karena rasa penasaran bisa berkembang menjadi sesuatu yang membuka banyak peluang.
Dalam wawancara bersama Tanoto Foundation pada 2023, Fiki menceritakan prosesnya mempelajari berbagai bahasa asing secara autodidak. Saat itu, Tanoto Foundation menyebut ia mampu menggunakan lima bahasa asing. Ia banyak belajar melalui internet, YouTube, film, percakapan, dan praktik langsung dengan orang lain.
Semuanya Bisa Dimulai dari Rasa Penasaran
Fiki tidak memulai perjalanan belajarnya dengan rencana besar seperti:
“Suatu hari skill bahasa ini harus menghasilkan sesuatu.”
Ia justru banyak mengeksplorasi hal yang menarik baginya. Dalam wawancara Tanoto Foundation, ia bercerita bahwa sejak sekolah memang senang mencoba berbagai kemampuan baru. Ketertarikannya terhadap bahasa kemudian berkembang semakin serius.
Ada pelajaran penting di sini.
Tidak semua hal yang kita pelajari harus langsung memiliki tujuan menghasilkan uang atau menjadi karier.
Kadang rasa penasaran adalah titik awal yang cukup.
Kamu mungkin sekarang suka menggambar.
Suka membuat video.
Suka fotografi.
Suka berbicara bahasa Inggris.
Suka coding.
Atau bahkan suka mengulik sesuatu yang dianggap temanmu tidak penting.
Jangan buru-buru menganggapnya sia-sia.
Skill membutuhkan waktu sebelum menunjukkan nilainya.
Belajar Tidak Selalu Harus Dimulai dari Kelas Formal
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Fiki adalah cara belajarnya.
Dalam wawancara terdahulu, ia mengatakan mempelajari bahasa secara mandiri melalui internet, HP, dan YouTube. Untuk bahasa Inggris, misalnya, ia banyak terpapar konten YouTube.
Dalam wawancara Tanoto Foundation, Fiki juga menjelaskan bahwa ia menggunakan film dan video berbahasa asing, mendengarkan cara penutur berbicara, lalu mencoba mengulanginya. Ia menekankan pentingnya konsistensi, variasi metode belajar, dan memiliki teman untuk praktik.
Ini relevan banget untuk Gen Z.
Sekarang kita punya akses ke banyak sumber belajar:
YouTube, podcast, komunitas, aplikasi, AI, artikel, sampai percakapan langsung dengan orang dari negara lain.
Artinya, hambatan terbesar terkadang bukan lagi:
“Aku belajar di mana?”
Melainkan:
“Apakah aku benar-benar mau melakukannya secara konsisten?”
Skill Bertumbuh Ketika Dipakai
Belajar teori saja tentu berguna.
Tetapi skill berkembang jauh lebih cepat ketika mulai digunakan.
Fiki tidak hanya menghafalkan kosakata. Ia menggunakan bahasa untuk berbicara dengan orang-orang dari berbagai negara. Interaksi semacam itu kemudian juga menjadi bagian dari konten yang membuatnya dikenal luas.
Di sinilah sebuah skill mulai berubah menjadi opportunity.
Misalnya kamu sedang belajar desain.
Jangan hanya menonton tutorial.
Buat poster.
Kalau belajar public speaking, jangan hanya membaca teori.
Coba presentasi.
Kalau sedang belajar bahasa Inggris, jangan menunggu grammar sempurna.
Mulai berbicara.
Karena skill yang hanya disimpan akan sulit terlihat. Skill yang digunakan mulai membangun bukti kemampuan.
Konsisten Lebih Penting daripada Terlihat Berbakat
Ketika melihat seseorang mahir melakukan sesuatu, kita sering hanya melihat hasil akhirnya.
“Dia memang berbakat.”
“Dia memang cepat belajar.”
Padahal yang tidak terlihat adalah waktu yang dihabiskan untuk mengulang hal yang sama.
Dalam wawancaranya, Fiki menyebut konsistensi dan disiplin sebagai bagian penting dalam belajar bahasa secara autodidak. Ia juga mengakui bahwa belajar sendiri bisa membosankan sehingga perlu mencari metode berbeda agar prosesnya tetap menarik.
Jadi, kalau hari ini kemampuanmu masih biasa saja, itu bukan alasan untuk berhenti.
Semua skill memiliki fase ketika hasilnya belum terlihat.
Jangan Terlalu Cepat Bertanya, “Ini Bisa Jadi Uang Nggak?”
Pertanyaan tentang karier dan penghasilan memang penting.
Tetapi kalau setiap ketertarikan langsung dinilai berdasarkan potensi uangnya, kita mungkin berhenti sebelum sempat menjadi cukup bagus.
Lebih baik tanyakan:
“Apakah aku tertarik mempelajari ini lebih dalam?”
Lalu:
“Bisakah kemampuan ini menyelesaikan masalah atau memberikan nilai untuk orang lain?”
Ketika kemampuan sudah cukup kuat dan mulai terlihat, peluang biasanya menjadi lebih mudah ditemukan.
Perjalanan Fiki menunjukkan bagaimana kemampuan bahasa dapat terhubung dengan komunikasi internasional, konten digital, jaringan pertemanan lintas negara, dan berbagai pengalaman baru.
Skill Hari Ini Bisa Menjadi Pintu Besok
Kita tidak selalu bisa memprediksi skill mana yang akan membawa kita ke tempat yang besar.
Karena itu, jangan meremehkan sesuatu hanya karena hari ini terlihat seperti hobi kecil.
Belajar.
Praktik.
Tunjukkan hasilnya.
Ulangi.
Karena mungkin yang sekarang kamu lakukan hanya karena penasaran, suatu hari justru menjadi alasan sebuah peluang datang kepadamu.
Skill tidak selalu langsung memberikan hasil. Tetapi ketika terus diasah dan digunakan, skill bisa berubah menjadi reputasi dan reputasi bisa membuka kesempatan.