Saya tumbuh di lingkungan sederhana yang membuat saya melihat pendidikan sebagai ruang yang menyelamatkan, bukan ruang yang membatasi. Saat kuliah di Pendidikan Ilmu Sosial, saya berulang kali mendengar kalimat yang sama: anak pendidikan ujungnya pasti jadi guru kelas. Pada awalnya, saya sempat merasa terjebak oleh ekspektasi itu, sampai akhirnya saya menyadari sesuatu yang lebih penting bukan tentang apa yang orang harapkan dari saya, tetapi tentang apa yang pendidikan harapkan dari manusia. Dari titik itu, saya mulai membangun cara pandang saya sendiri: Education Unlimited Space, keyakinan bahwa pendidikan tidak selesai di kelas, tidak berhenti pada gelar, dan tidak ditentukan oleh ruang fisik. Ia hidup di ruang mana pun manusia berubah karena proses belajar yang dirancang dengan niat dan arah yang jelas.
Dorongan itu yang membuat saya menekuni pedagogik dan andragogi secara bersamaan, karena saya ingin memahami pembelajaran dari dua sisi: bagaimana seseorang dibentuk untuk belajar, dan bagaimana seseorang memilih untuk belajar. Pemahaman tersebut secara alami membawa saya ke dunia pengembangan kurikulum dan konten, bukan sebagai dokumen formal, tetapi sebagai arsitektur berpikir yang memandu perubahan. Saya tidak merancang materi agar terlihat rumit atau terdengar canggih, saya merancangnya agar logis, relevan, terpakai, dan membuat orang lain merasa mampu. Di sana letak bakat saya: menyusun struktur belajar yang tidak hanya benar secara konsep, tetapi juga benar ketika diuji dalam praktik kehidupan profesional.
Selama 3–4 tahun terakhir, saya menekuni bidang Curriculum Development, Training & Development, dan Learning Design di beberapa perusahaan, baik di ekosistem startup maupun perusahaan multinasional. Perjalanan itu mengasah cara saya bekerja dan menilai kualitas pembelajaran: bahwa kurikulum bukan soal administratif, melainkan keputusan desain tentang masa depan manusia yang akan menggunakannya. Ia bukan tentang banyaknya informasi, tetapi tentang ketepatan urutan, kejelasan tujuan, dan dampak yang dapat dirasakan serta diukur oleh pembelajar. Dari sana saya belajar bahwa konten yang baik tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi menciptakan pengalaman menang—menang dalam memahami, menang dalam menerapkan, dan menang dalam mempercayai proses belajar itu sendiri.
Hari ini, saya bergabung di EduAPM sebagai Lead Kurikulum dan Konten. Peran ini bukan hanya kelanjutan dari perjalanan saya, tetapi titik konfirmasi bahwa saya selalu berada di medan yang tepat: merancang arah belajar manusia, bukan hanya memproduksi materi. Di sini saya semakin memahami bahwa kurikulum adalah DNA produk pendidikan, yang menentukan standar mutu, cara pengalaman belajar dibangun, bagaimana evaluasi dirancang, hingga bagaimana user akhirnya berubah karena proses yang mereka jalani. Dan saya merasa beruntung berada di ruang di mana keputusan-keputusan pendidikan tidak dibuat untuk sekadar memenuhi tren, tetapi untuk menumbuhkan manusia yang berpikir lebih tajam, bekerja lebih baik, dan belajar tanpa merasa dibatasi.
Semakin jauh saya berproses, semakin saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi rekayasa kemungkinan. Banyak orang gagal dalam proses belajar bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena alur belajarnya tidak pernah dirancang untuk membuat mereka menang. Dan di titik itulah saya merasa bahwa kelebihan saya bukan sekadar menyusun kurikulum dan konten, tetapi menyusun ulang peluang keberhasilan seseorang melalui desain pembelajaran yang terarah, masuk akal, dan manusiawi. Jika saya sendiri tidak yakin dengan logika sebuah materi, saya tidak akan merilisnya. Standar itu yang membuat saya selalu menjadi orang pertama yang harus diyakinkan oleh konten yang saya rancang, karena bagi saya kejelasan bukan musuh kedalaman, kejelasan adalah syarat awal dari kedalaman yang bisa dipahami.
Ke depan, harapan saya bukan hanya menjadi lebih ahli, tetapi menjadi lebih berdampak. Saya ingin terus berada di ruang yang merancang pembelajaran yang membuat orang lain merasa pendidikan bekerja untuk mereka, bukan sebaliknya. Saya ingin membangun konten dan kurikulum yang bukan hanya dibaca, tetapi dipakai untuk berpikir, dipakai untuk bekerja, dan dipakai untuk berubah. Karena bagi saya, pendidikan yang baik bukan yang paling ramai dibicarakan, tetapi yang paling lama membangun manusia di dalamnya.
Jika dulu saya dianggap “terpaksa” dengan kata guru, hari ini saya memilih menjadi guru bagi proses berpikir, bagi desain belajar, dan bagi kemungkinan bertumbuhnya manusia itu sendiri di ruang tanpa batas.